share-this-post Diary Tukang Cendol



Hujan kembali sirami sudut jalan pojok kota, tempat kusementara pejamkan mata dari musuh abadi bernama sepi… mungkin hanya sahabat yang tahu hanya lamunan dan tembok ratapan kamarkecil yang selama ini setia temani sedikit keluh , sisanya tertelan bersama secangkir teh panas atau segelas kopi hangat ….
Aku haus…. Akupun lapar  tapi bukan perut ku, Aku sedih akupun tertawatapi bukan bibir ku, mungkin itulah kata kata yang tergambar dari hari hari kuselama ini

Musuh ku bertambah bersama kebosanan yang datang di saat senggang, ingin ku terlelap tapi kantuk tak jua datang, ingin ku teriakan namun lidah ku terkunci rapat, sekali lagi segelas kopi  merapat, temani  pencarian yang tak kunjung usai namun terlanjur usang…

meski mata mengunci rapat hati tak jua ku dapat… merah kuning hijau kelabu merah  muda dan biru….seperti itulah rasanya, pernah sesekali seorang sahabat bertanya, mungkin bosan melihatku yang selalu acuh atau bahkan tertawa setiap x dia menggoda  kebosanan sekeliling tembok besi  kerinduan kebebasan  dengan tawa “perih… …”

“seperti apa…??? Yangbisa memukul ku hingga terjatuh… itulah yang akan ku kejar  ^^
“seperti dia kah “nama yg tidak di sebut”..??? hahaha belumsampai… 
"terkadang ilmu itu bisa sesamar canda....atau gurau seolah tak bermakna bagi mereka yang tak memperhatikannya "padahal ada tuhan di sana...." 

ia tahu apa yang ku maksut karena selanjutkan semua berubah menjadi obrolan mengenai agama  Dan keluarga dengan segelas kopi di pinggir jalan hingga terasa ringan …sekali lagi kopi menjadi sahabat tutupi kebosanan dan kerinduan malam ini lewat mata pena…

Gurau kebosanan.. memang seolah tanpa makna tapi ternyata itu nyata............."huuammm..."
Diberdayakan oleh Blogger.